PADA MASA PENCOBAAN
(Renungan Kristen)
Oleh : Pdt. Deni Kana
Djo
Bekerja
Sebagai Pendeta Gereja Masehi Advent Hari Ketujuh
Tgl,
8 Mei
Sebab Imam Besar
yang kita punya, bukanlah imam besar yang tidak dapat turut merasakan
kelemahan-kelemahan kita, sebaliknya sama dengan kita Ia telah dicobai, hanya
tidak berbuat dosa. Ibr. 4:15.
Kristus tinggal di dalam diri setiap orang yang menerima Dia
oleh iman. Walaupun berbagai pencobaan akan datang kepada jiwa itu, namun
hadirat Tuhan akan menyertainya. Semak yang terbakar, di mana hadirat Tuhan
berada, tidak membakar hangus, Api itu tidak membakar serta pun dari
cabang-cabangnya. Demikianlah yang akan terjadi dengan manusia yang lemah yang
menaruh kepercayaannya pada Kristus. Api penggodaan mungkin menyala, penyiksaan
dan pencobaan mungkin datang, tetapi hanya kotoran yang akan terbakar habis. Emas
itu akan bersinar lebih cemerlang melalui proses pemurnian tadi.
Dia yang berada dalam hati orang yang setia, lebih besar
daripada dia yang mengendalikan hati orang-orang yang tidak percaya. Janganlah
mengeluh ,karena pencobaan yang datang kepada Anda, tetapi arahkanlah matamu
tertuju pada Kristus, yang telah menyelubungi Keilahian-Nya dengan kemanusiaan?
agar kita mengerti betapa besarnya perhatian-Nya pada kita -karena Dia telah
menyamakan diri-Nya dengan umat manusia yang menderita; Dia telah mengecap, cawan
kesedihan manusia, Dia telah merasakan segala penderitaan kita, Dia telah
disempurnakan melalui penderitaan, dicobai dari segala titik, sama seperti
manusia dicobai, agar Dia boleh menolong mereka yang berada dalam pencobaan.
Dia berkata “Aku akan membuat
orang lebih berharga dari pada emas murni dan manusia lebih berharga dari pada
emas Ofir (Yes 13:1 2). Dia akan menjadikan manusia berharga oleh tinggal
bersama dia, dengan memberikan Roh Kudus kepada manusia itu. Dia berkata, “Jadi
jika kamu yang jahat tahu memberi pemberian yang baik kepada Anak-anakmu,
apalagi Bapamu yang di surga! Ia akan memberikan Roh Kudus kepada mereka yang
meminta kepada-Nya” (Luk 11:13).
Tuhan telah mengajarkan agar kita
memanggil Allah sebagai Bapa kita; menganggap Dia sebagai sumber dari kasih
orang tua, sumber dari kasih yang telah mengalir sepanjang abad melalui
salurannya, yaitu hati manusia. Segala kasih yang telah dinyatakan di atas
dunia telah mengalir dari takhta Allah, dan dibandingkan dengan kasih yang
terdapat di dalam hati-Nya, laksana mata air dan samudra. Kasih-Nya
mengalir terus untuk menguatkan orang yang lemah, meneguhkan hati orang yang
kecut, sehingga mereka boleh datang kepada Bapa dalam nama Anak-Nya; Pelajaran
dan nyanyian kita adalah “Dengarlah apa yang telah diperbuat Allah bagi
jiwaku.”– Signs of the Times, 5 Maret 1896.
Amin terimakasih pak pendeta Tuhan Yesus memberkati
BalasHapus