MAKALAH
WAWASAN DUNIA
(Worldview)
O
L
E
H
NAMA : DENI KANA
DJO
MAGISTER
PENDIDIKAN AGAMA KRISTEN
PROGRAM PASCA
SARJANA
SEKOLAH TINGGI
AGAMA KRISTEN INFORMATIKA TIMOR
2019
BAB
I
PENDAHULUAN
Setiap hari kita membuat keputusan.
Kita membuat keputusan-keputusan yang kecil seperti memilih pakaian untuk
dipakai ke kantor, memilih makanan untuk makan siang.
Kita juga membuat
keputusan-keputusan yang lebih besar dan serius seperti memilih jurusan di
bangku kuliah, memilih pekerjaan ketika ada dua atau tiga tawaran datang dalam
waktu yang bersamaan, memilih tempat tinggal, memilih pasangan hidup dan
memilih keyakinan.
Apapun keputusan yang dibuat- itu
merupakan produk dari wawasan dunia kita. Ibarat koin yang punya dua
sisi, tindakan atau keputusan merupakan sisi yang satu;
keyakinan-keyakinan yang hidup dalam diri adalah sisi yang satu lagi. Keduanya
tidak dapat dipisah. Worldview dan
tindakan merupakan pasangan yang tidak dapat dipisahkan.
BAB
II
ISI
I.
Wawasan dunia/worldview dan wawasan
dunia Kristen
Istilah ini merupakan kata yang
diterjemakan dari bahasa Jerman, yaitu weltangchauung;
dan pertama kali digulirkan oleh Immanuel Kant. Menurut Kant, manusia
menggunakan akal untuk mencapai pengertian dan makna dunia dan peran manusia di
dalamnya. Pengertian “weltanchauung”
atau “worldview” kemudian berkembang.
Sebagian orang menyebutnya sebagai visi, prinsip-prinsip, sistem nilai,
cita-cita atau ideologi. Albert M. wolters, penulis buku Creation Regained.
Menurut Wolters, worldview adalah
kerangka menyeluruh dari kepercayaan dasar seseorang tentang segala hal. Apa
yang dimaksud dengan segala hal di sini adalah hal yang termasuk realitas;
dunia, manusia, moralitas, keluarga, politik, ilmu pengetahuan, seni, bisnis,
pertanian, perikanan, dan bidang-bidang lain yang merupakan cakupan budaya.
Worldview (wawasan dunia) meliputi
kepercayaan-kepercayaan dasar seseorang. Apa yang dimaksud dengan kepercayaan
di sini bukanlah agama resmi seperti agama Islam, Kristen, Hindu, atau Budha
atau keyakinan lain. Worldview tidak
dapat disamakan dengan agama. Seseorang biasa beragama Islam, tetapi worldview-nya tidak berwarna Islam.
Tanpa ia sadari, bias saja ia mengadopsi prinsip-prinsip tertentu yang bukan
berasal dari agama Islam. Bisa saja seseorang beragama Kristen, tetapi worldview-nya tidak ‘berwarna Kristen’ worldview-nya diwarnai oleh kenyakinan
yang berasal dari Liberalisme atau isme-isme lain. Jadi, ada perbedaan antara
kepercayaan dasar yang sungguh-sungguh dengan agama yang dianut.
Menurut Wolters, worldview adalah kerangka menyeluruh dari kepercayaan dasar
seseorang tentang segala hal. Perlu juga diketahui bahwa worldview (wawasan dunia) tidak sama dengan perasaan atau pendapat.
Pendapat membutuhkan argumentasi logis atau tuntutan terhadap pengetahuan
tertentu; worldview tidak harus
selalu demikian. Worldview tidak
harus dijelaskan
sekalipun ada juga orang yang mampu
memberikan penjelasan akademis. Dapat dikatakan bahwa setiap orang memiliki worldview sekalipun tidak ada
argumentasi logis atau ilmiah atas kenyakinannya. Kepercayaan dasar (worldview) tidak juga harus disamakan
dengan pengakuan kognitif. Seseorang bias jasa memiliki pengakuan kognitif
tertentu, tetapi belum tentu ia sungguh-sungguh menyakininya. Kalaupun ia
yakin, belum tentu ia sunggung-sungguh menyakininya. Kalaupun ia yakin, belum
tentu ia bela. Sebaliknya, worldview
bukan hanya menuntut pernyataan, tetapi juga pembelaa. Worldview menuntut komitmen lebig dari pada pendapat belaka.
Oleh karena worldview (wawasan dunia) merupakan kepercayaan-kepercayaan dasar
yang sungguh-sungguh hidup dalam diri seseorang, worldview cenderung membuat pola atau kerangka. Ibarat mata air di
gunung yang akhirnya membentuk arus sungai, worldview
juga membentuk arus atau pola tindakan. Jadi kebiasaan tradisi atau
tindakan-tindakan yang terpola merupakan produk dari worldview. Apakah setiap orang mempunyai worldview? Ya. Anak kecil sekalipun mempunyai worldview sekalipun masih sangat mentah. Semakin banyak informasi,
pengalaman atau interaksi dengan lingkungan termasuk interasi dengan hal-hal
yang bersifat supranatural, worldview
mengambil bentuk yang makin berkembang sekalipun arah perkembangan itu tidak
selalu disadari. Ibarat organ-organ tubuh seperti jantung, paru-paru, hati dan
organ-organ lain, yang tidak selalu dapat dilihat bagaimana organ-organ ini
berkembang dan bekerja; demikian juga worldview.
Tidak selalu disadari apa sistem nilai (istilah lain terhadap worldview) yang terparti dalam diri
sekalipun keputusan sering di buat.
Fungsi dari Worldview
Worldview (wawasan dunia) berfungsi memberikan arah atau
kompas dalam hidup. Worldview memberi
petunjuk. Worldview semacam map, yang
memberikan pengertian tentang apa yang benar dan apa yang salah atau apa yang
patut atau apa yang tidak patut dari peristiwa-peristiwa dan gejala-gejala yang
membingungkan. Fungsi lain dari worldview adalah membentuk cara menilai
peristiwa, isu-isu dan struktur dari peradaban. Dengan kata lain, worldview berfungsi untuk memberikan
arah sekaligus struktur dari cara melihat segala sesuatu yang ada.
Wawasan
Dunia Kristen (Christian Worldview)
Wawasan
dunia Kristen adalah pernyataan mengandung penebusan Allah sebagai anugerah
yang membebaskan hati manusia dari berhala dan wawasan-wawasan kehidupan yang
salah yang dihasilkan oleh penipuan setan dan kebutuhan karena dosa, dan
memungkinkan mereka melalui iman di dalam Yesus Kristus untuk mempunyai
pengetahuan mengenai Allah dan kebenaran tentang ciptaanNya dan semua aspek
realitas.
Wawasan
dunia telah diwarnai (atau dinodai) selama berabad-abad dengan warna relatisme-
yaitu, ide bahwa tidak ada kebenaran-kebenaran universal mengenai dunia; bahwa
dunia tidak memiliki cirri-ciri intrinsik, dan bahwa hanya ada cara-cara
berbeda untuk menafsirkannya’ peneguhan terhadap objektivitas ini yang berakar
di dalam Allah adalah penangkal racun. Eksintensi dan natur Allah adalah sumber
independen dan standar transsendan bagi segala sesuatu. Bagaimanapun juga, premis
dasar Alkitab adalah bahwa Allah yang kekal itu ada. Dan menurut doktrin
sentral theology Kristen, Allah eksis
sebagai satu substansi ilahi yang ada sebagai tiga pribadi yang setara dan
sama-sama kekal – Bapa, Anak, dan Roh Kudus. Sementara model-model misteri dari
trinitas ini antara Timur dan Barat,
kuno dan modern, sulitlah memperbaiki
formulasi klasik dari De Trinitate
Santo Auguestinus ini: “Menyangkut pertayaan ini, maka, marilah kita
percaya bahwa Bapa, dan Anak, dan Roh Kudus, adalah Allah, Pencipta dan
Penguasa seluruh ciptaan; dan bahwa Bapa bukanlah anak, atau Roh Kudus juga
bukanlah Bapa, atau Anak, tetapi Trinitas pribadi saling berhubungan satu sama
lain, dan sebuah kesatuan dengan esensi yang sama.
Allah
adalah keagungan transenden, dan karakter-Nya adalah tiga yang kudus (Yes 6:3),
sempurna di dalam keadilan (Ul 32:4), dan sempurna di dalam kasih (1 Yoh 4:8).
Dia murni di dalam kemurahan dan kekerasan-Nya yang tertinggi (Rm 11:22). Dia
adalah benar-benar yang terbesar dan tidak ada yang lebih besar yang bias
dipikirkan. Mengenai karya-karya-Nya, karya-karya-Nya itu tidak cacat di dalam
penciptaan (kej 1:31) di dalam penghakiman (Maz 51:6) dan di dalam penebusan
(Why 5:9). Providensi Allah adalah komprehensif, kerena Tuhan sudah menegakkan
takhta-Nya di sorga; dan kerajaan-Nya berkuasa atas segala sesuatu (Mzm
103:19). Dia mengerjakan segala sesuatu dengan baik (Mrk 7:37).
Karena
itu, Allah adalah realitas tertinggi yang natur trinitas-Nya, karakter
pribadi-Nya, kesempurnaan moral-Nya, karya-karya-Nya yang ajaib, dan
pemerintahan-Nya yang berdaulat memberikan titik acuan objektif bagi semua
realitas. Dari perspektif alkitabiah, alam semesta tidak netral, tetapi alam
semesta mempunyai makna intrinsik yang berakar di dalam Allah. Allah adalah
alas an mengapa sesuatu ada di sini dan bukannya tidak ada sama sekali. Allah
adalah juga alasan mengapa hal-hal ada seperti adanya (kecuali yang jahat) dan
bukan hal-hal yang lain. Karena realitas berdasar secara theistis, manusia
tidak memiliki kebebasan, pembenaran, atau bahkan kesempatan untuk menciptakan
dan memberikan makna yang bebas kepada alam semesta. Manusia tidak bebas untuk
melakukan hal demikian karena Allah telah melakukannya.
I.
Wawasan
dunia mempengaruhi hidup seseorang
Gerakan Zaman Baru
dan Posmodernisme berhasil menganakemaskan pemuasan emosi jauh di atas pergumulan intelektual. Spiritualitas
hanya dibatasi pada berbagai aktivitas ekklesiatikal yang bersifat vertical dan
sempit, misalnya berdoa, menyanyi, memberikan persembahan. Tanpa bermaksud
mengurangi nilai beblikal dari semua ini, kita perlu menyadari dengan sungguh
bahwa kekristenan jauh lebih komprehensif daripada semua ini. Kekristenan
adalah
wawasan dunia yang memiliki banyak implikasi dalam berbagai aspek kehidupan di
dunia.
Gejala
ini disayangkan, terutama di kalangan mahasiswa. Universitas sebagai pusat
pergumulan telah dipengaruhi begitu rupa oleh wawasan dunia yang menyimpang.
Jika wawasan Kristen yang kuat tidak diajarkan di universitas maka pusat
pendidikan yang berfungsi untuk mencetak para pemikir dan pemimpin ini pasti
akan mengadopsi wawasan dunia yang lain. Ricard A. Baer menulis, “Education never takes place in a moral and
philosophical vacuum. If the langer questions about human being and their
destiny are not being asked and answered within a predominantly judeo-Christian
framework (worldview), they will be addressed with another philosophical or
religious framework- but hardly one that is neutral”.
Pengaruh
wawasan dunia non-Kristen di sebagian besar universitas pasti akan mempengaruhi
masyarakat seperti apa yang terbentuk di kemudian hari. Jika banyak universitas
diwarnai wawasan dunia non-Kristen, maka para pemikir dan pemimpin yang
dihasilkan juga pasti akan membawa warna tersebut ke dalam masyarakat yang di
dalamnya mereka berkiprah. Sebaliknya, “if
the Christian worldview can be restored to place of prominence and respect at
yhe university, it will have a leavening effect throughout society. If we
change the university, we change our culture through those who shape culture”. Jika hidup seseorang memiliki dasar
Alkitab yang kokoh bagi upaya membentuk wawasan dunia Kristen, maka dalam hal
ini Roma 12:2 merupakan teks yang paling penting karena ayat ini berbicara
tentang cara bepikir Kristiani (berubahlah oleh pembaruan akal budimu). James
Boice menulis: kita juga bisa
memikirkan hal-hal tentang kekristenan tetapi dengan cara berpikir yang
sekuler, sebaliknya kita juga bisa memikirkan hal-hal yang tampak sekuler dari
perspektif Kristiani. Dalam buku
Roma 12:2 mengajarkan hal penting tentang wawasan dunia Kristen. Pertama,
keselamatan dan pertumbuhan rohani sangat ditentukan oleh perubahan cara
berpikir. Kedua, transformasi akal budi merupakan proses terus-menerus
sepanjang hidup kita. Ketiga, perubahan pikiran merupan perubahan radikal dan
mendasar yang mencapai tingkat perubahan wawasan dunia. Oleh sebab itu
perubahan akal budi bearti pembaruan wawasan dunia yang selanjutnya berdampak
pada seluruh aspek lain dalam kehidupan orang percaya.
Wawasan
dunia akan mempengaruhi seseorang ketika diperhadapkan kepada
persoalan-persoalan yang mendesak. Ketika menghadapi persoalan-persoalan yang
kritislah wawasan dunia akan terpampang dengan jelas dalam hidup sesorang. Seperti
iklan besar yang dipampang di pinggir jalan raya, wawasan dunia akan jelas
ketika keputusan dibuat seseorang saat menghadapi masalah.
BAB
III
KESIMPULAN
Berdasarkan
ringkasan diatas maka kesimpulan yang dapat diambil adalah:
1.
Wawasan dunia telah memainkan peranan
yang luar biasa dalam pemikiran modern dan Kristen, salah satu konsepsi
intelektual di dalam era mutakhir dan sebuah gagasan yang meninggikan konsep
kebenaran Alkitab.
2.
Wawasan dunia akan mempengaruhi
seseorang ketika diperhadapkan kepada persoalan-persoalan yang mendesak.
DAFTAR
PUSTAKA
Naugle, David K. 2010. Wawasan Dunia Sejarah Sebuah Konsep (Sebuah
Pandangan Kristen). Surabaya : Penerbit Momentum
Handoko, Yakub Tri. 2016. Christian Worldview (Wawasan Dunia Kristen).
(Disadur dari artikel STAR (Sekolah Teologi Awam Reformed)). Star-exodus.org.
Tanggal 21 Januari 2019
Tidak ada komentar:
Posting Komentar